Dari Ide ke Aksi : Cerita Antusiasme Mahasiswa UNPAR dalam Program Kreativitas Mahasiswa

Apr 24, 2026

Di sudut kampus, pertemuan lintas jurusan, hingga obrolan penuh ide di sela kesibukan kuliah menjadi semakin sering terlihat. Semua bermuara pada satu semangat yang sama: keinginan mahasiswa untuk berkontribusi melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Tahun ini, sebanyak 63 mahasiswa UNPAR turut ambil bagian dalam program ini. Mereka datang dari berbagai latar belakang keilmuan, membawa perspektif yang beragam, dan dipersatukan oleh semangat untuk menciptakan sesuatu yang berdampak. Dari proses tersebut, berhasil terkumpul 27 proposal PKM yang menjadi representasi nyata dari ide, kerja keras, dan kolaborasi mahasiswa.

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Mahasiswa harus melalui proses panjang mulai dari mencari ide, menyusun konsep, berdiskusi dalam tim, hingga menghadapi berbagai revisi. Namun justru di situlah nilai pembelajaran terbentuk: ketekunan, kerja sama, dan kemampuan untuk terus berkembang.

Arsip Foto Ditmawa, April 2026

Vincentia Theressa Asna, mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer, mengungkapkan bahwa proses dalam PKM membutuhkan waktu dan ketelitian.

“Tantangan terbesar kami datang saat proses revisi berdasarkan masukan reviewer. Perbaikan yang harus dilakukan tidak sedikit, dan situasinya menjadi semakin menekan karena batas akhir pengumpulan PKM jatuh pada 9 April, sementara saya harus mulai menghadapi UTS pada 13 April. Di titik itu, saya sempat merasa kewalahan karena waktu yg singkat dan tekanan yg datang bersamaan. Namun, kami tetap memilih untuk menyelesaikan semuanya satu per satu. Dalam kondisi yang tidak ideal, kami belajar bertahan dan mengatur prioritas. Pada akhirnya, revisi dapat diselesaikan, meskipun setelah itu saya harus mengejar persiapan UTS dengan usaha yang jauh lebih keras. Dari pengalaman ini, saya menyadari bahwa untuk menghasilkan sesuatu bukanlah hal yang sederhana. Dibutuhkan ketekunan, disiplin, serta kemauan untuk terus belajar melalui berbagai referensi. Saya juga memahami bahwa ketelitian dalam membaca kriteria, menyusun proposal dengan matang, serta menghindari kebiasaan bekerja mendekati tenggat waktu adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Media yang kami kembangkan ditujukan untuk membantu pembelajaran struktur data, khususnya dalam mengurutkan angka atau huruf acak menjadi terstruktur menggunakan konsep binary search tree melalui pendekatan hands-on. Dengan melibatkan pengguna secara langsung, media ini diharapkan dapat membuat proses belajar menjadi lebih interaktif, tidak hanya dipahami, tetapi juga dialami. Bagi saya, PKM bukan sekadar program, tetapi menjadi ruang latihan nyata sebelum menghadapi tantangan akademik yang lebih besar, seperti skripsi. Melalui PKM, ide yang awalnya hanya sebatas tugas kuliah, dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata dan bermanfaat. Oleh karena itu, saya mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba, karena dari proses inilah ketahanan, kedisiplinan, dan cara berpikir kita benar-benar terbentuk.”

Ungkapan sederhana ini mencerminkan realita yang dihadapi mahasiswa bagaimana mereka harus menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik dan komitmen dalam menyusun proposal PKM. Sementara itu, Juan Edbert Mulyadi dari Fakultas Teknologi Rekayasa melihat PKM sebagai ruang untuk mengembangkan ide menjadi sesuatu yang lebih nyata.
“PKM memberi kami ruang untuk berinovasi dan berpikir kritis, membentuk ide yang tidak hanya menarik di atas kertas, tetapi juga nyata dan dapat direalisasikan.”

Bagi Paskalis Kevin Prayogo dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, perjalanan PKM menjadi pengalaman yang penuh dinamika sekaligus pembelajaran.

“Tidak ada proses yang lurus, pasti naik turun tapi ambil sisi positifnya. Selama kurang lebih 4 bulan pelaksanaan kegiatan PKM, saya mendapatkan banyak pengalaman, mulai dari menyusun ide, bekerja dalam tim, hingga merealisasikan program yang telah dirancang bersama tim. Selain itu saya belajar tentang leadership yang bukan sekadar memberi arahan kepada anggota saja tetapi memastikan semua berjalan sesuai dengan apa yang saya dan tim pertanggungjawabkan.”


Hal serupa juga dirasakan oleh Maydelyn Abby Soetrisno dari Teknik Mekatronika, yang menekankan pentingnya proses evaluasi dan pembelajaran.


“Kegiatan PKM memberikan saya banyak pengalaman serta masukan yang membangun dari juri dan dosen pembimbing. Melalui proses ini, saya jadi lebih memahami bagaimana mengembangkan ide menjadi lebih baik lagi.”

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa PKM bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pembelajaran yang nyata. Mahasiswa tidak hanya ditantang untuk menghasilkan ide, tetapi juga untuk mengelola proses, bekerja dalam tim, serta menghadapi tantangan dengan sikap yang adaptif.

Dengan semangat dan antusiasme yang terus tumbuh, Program Kreativitas Mahasiswa di UNPAR diharapkan dapat terus menjadi wadah lahirnya inovasi dan kontribusi nyata. Karena pada akhirnya, setiap ide yang berani dimulai hari ini, memiliki potensi untuk menjadi solusi bagi masa depan.

Penulis : M. Ariyadi / Ditmawa / 2026

Kategori